Hujan di pagi hari
Hari itu Jum’at, 8 Oktober 2010
Dinihari sekitar pukul 03.40
Belum lagi tubuh ini menggeliat. dan gelap masih menyelimuti ambang pagi. Udara semakin dingin. Kubenahi lagi posisi bantalku. Kuta rik dan kurapatkan selimutku. Kupeluk erat gulingku. Kubayangkan kabut diluar semakin tebal.
Ah . . . . . . . . kusambung lagi tidurku.
Tapi . . . . . . . . . tiba-tiba bunyi gemuruh dari langit menggelegar sangat kencangnya memekakkan telingaku. dan disusul dengan hujan deras yang begitu hebatnya disertai angin yang menderu-deru. Cahaya halilintar yang bersahut-sahutan menembus korden kamarku. Bunyi arus air hujan di got belakang rumahku jelas terdengar keras sekali.
Hiiiiiiii……hhh!
Sangat menakutkan. Kubayangkan banjir Wasior di Irian Barat.
Aduh . . . . . apa yang dapat aku lakukan pada saat cuaca menakutkan seperti ini?
Bangun . . . .?
Lalu . . . . cuci piring ? Atau memasak ?
Sementara dapurku masih belum layak huni, bocor semua. Angin yang menderu-deru membawa percikan air dari samping kanan, kiri dan belakang sekaligus.
Mau membayangkan ? Silahkan saja.
Waduh . . . . . . . .
Ternyata waktu terus berjalan. Jarum jam sudah menunjuk pada angka 6 lebih. Hujan belum reda. Aku melompat dari tempat tidurku. Kukerjakan tugas pagi harikudengan terburu-buru.
Berangkat ke sekolah?
Masih hujan.
Kutunggu beberapa saat.
Oh . . . . . . . . sudah pukul 7 lebih. Dengan terpaksa kubungkus tubuhku dengan jas hujan.
Terlambat di sekolah ?
So pasti.
Yang jelas hujan pagi itu menghambat kerjaku.
Add a comment Oktober 19, 2010
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
1 komentar Agustus 27, 2010